Sudut Lombok : Berbagi untuk Lombok Bangkit

0
242

Pada akhir Juli tahun 2018 sampai bulan ini telah terjadi ratusan kali gempa bumi di pulau Lombok dengan 5 kali gempa bumi skala besar, yakni gempa bumi 6.4 SR (24 Juli 2018), 7.0 SR (5 Agustus 2018), 6.2 SR (9 Agustus 2018) dan 6.9 SR (19 Agustus 2018). Namun tidak berhenti disitu, gempa bumi susulan pun masih berulang kali terjadi. Adapun akibat dari deretan gempa bumi tersebut berdasarkan data BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) yakni 564 orang meninggal dunia, 1.584 orang luka-luka, 445.343 orang mengungsi, serta 149.715 unit rumah dan 3.818 unit fasilitas umum rusak.
Gempa bumi yang terjadi di Lombok tidak hanya meninggalkan dampak fisik namun juga psikologis. Masyarakat nyatanya masih dilanda ketakutan karena situasi panik dan mencekam saat gempa masih meninggalkan bekas trauma di hati dan pikiran masyarakat. Bahkan hingga saat ini tidak sedikit masyarakat memilih mengungsi atau mendirikan tenda di halaman rumah karena masih khawatir gempa akan terjadi lagi. Memang, trauma pasca bencana adalah hal yang lazim terjadi. Oleh karena itu perlu adanya intervensi dari berbagai pihak untuk membantu masyarakat Lombok misalkan dengan memulihkan trauma pasca bencana atau yang lebih dikenal dengan trauma healing.

Salah satu pihak yang menyadari pentingnya trauma healing bagi korban gempa adalah Sudut Lombok. Sudut Lombok merupakan sebuah komunitas yang bergerak pada bidang pariwisata dan sosial kemasyarakatan. Kali ini “Berbagi untuk Lombok Bangkit” merupakan tema yang dipilih oleh sudut Lombok dalam kegiatan sosialnya. Hal ini diwujudkan melalui kegiatan pemberian bantuan logistik dan beberapa kegiatan trauma healing untuk korban gempa di Lombok.

Sudut Lombok mengawali gerakan berbagi untuk Lombok pada 11 Agustus 2018 dengan menyalurkan bantuan logistik kepada korban Gempa di Sembelia hingga Sembalun. Setelah menyalurkan bantuan logistik, Sudut Lombok mengadakan trauma healing bekerjasama dengan beberapa fasilitator dan anggota Forum Anak Lombok Timur dengan melaksanakan upacara dan perayaan 17 Agustus di Sembalun bersama masyarakat yang berada di pengungsian. “Walaupun dalam keterbatasan, anak-anak korban gempa tetap tersenyum memberi hormat kepada Sang Saka Merah Putih dan mereka sangat antusias memainkan permainan yang telah kami siapkan, kami bahagia melihat mereka tetap tertawa…,” ungkap founder Sudut Lombok, Andriawan Abdi.

Setelah sukses melaksanakan kegiatan 17 Agustus di Sembalun, pada 25 Agustus 2018, Sudut Lombok kembali mengadakan trauma healing di Kecamatan Peringgabaya Kabupaten Lombok Timur bekerjasama dengan Ikatan Pemuda Pringgabaya dan Aksipeduli Ummat Sangata-Kaltim. Dalam kegiatan ini, anak-anak korban gempa diajak memainkan berbagai permainan tradisional seperti permainan karet, lomba makan kerupuk, lomba makan roti dan bernyanyi bersama. Andriawan menyebut bahwa anak anak sangat menikmati semua permainan tersebut. Selain trauma healing, di penghujung Agustus tepatnya pada 29 Agustus 2018 bersama dengan CFC, Sudut Lombok juga menyalurkan paket makanan kepada korban gempa di 5 wilayah berbeda di Kecamatan Pringgabaya dan Sembelia.
Pada awal bulan September 2018, Sudut Lombok mengadakan festival lumpur selama dua hari di Bagek Kedok Desa Apitaik. Kegiatan ini diikuti oleh anak anak, “Dan sore itu kami menjingga bersama, sejenak tiada duka, hanya tawa dan bahagia yang membumbung di angkasa…,” menjadi ungkapan yang menggambarkan apa yang dirasakan oleh anak anak dan tim Sudut Lombok saat bermain bersama di lumpur. Andriawan menyebut masyarakat di sekitar lokasi menyambut dengan hangat program tersebut bahkan mereka meminta agar kegiatan tersebut diadakan kembali.

Masih pada bulan September, Sudut Lombok bekerjasama dengan Petrochina kembali mengadakan trauma healing yakni pada 24 September 2018 di SMAN 1 Sembalun, Kecamatan Sembalun, Kabupaten Lombok Timur. Kegiatan ini diikuti oleh guru-guru dan siswa siswi mulai dari SD hingga SMA. Mereka terlihat sangat antusias sebelum kegiatan ini dimulai. Kegiatan ini dibuka dengan pemberian motivasi kepada guru-guru dan siswa siswi. Selanjutnya guru-guru dan siswa siswi juga diajak untuk memainkan sebuah permainan yang berhasil membuat guru-guru dan siswa siswi bisa tertawa kembali.

Setelah kecamatan Sembalun, Desa Sesait, Kecamatan Kayangan, Kabupaten Lombok Utara merupakan lokasi yang dipilih oleh Sudut Lombok untuk kegiatan trauma healing berikutnya. Kegiatan ini dilaksanakan pada 25 September 2018, melibatkan orang tua khusunya Ibu-Ibu di pengungsian. Kegiatan yang dilakukan disini juga sama seperti kegiatan di Sembalun yakni pemberian motivasi dan bermain bersama. Selama kegiatan tersebut terlihat Ibu-Ibu walaupun sibuk menggendong dan memangku anak-anak mereka tetap mendengarkan dengan seksama motivasi yang diberikan. “Melalui kegiatan tersebut kami berharap Ibu-Ibu dan anak-anak mereka bisa bahagia dan memulai hidup kembali seperti biasa” ungkap Andriawan.

Selain pemberian motivasi dan bermain bersama, dalam kedua kegiatan trauma healing tersebut juga dilakukan pendistribusian 200 paket sembako di Sembalun Bumbung dan Desa Sesait, serta pembagian terpal di Bilok Petung. Memang bantuan fisik, namun dengan adanya pembagian sembako dan terpal ini diharapkan bisa membantu masyarakat secara psikologis juga. “Program kebaikan dari Sudut Lombok terus berjalan, jangan lupa terlibat. Terima kasih kepada seluruh donator, tim kerja, dan semua sahabat yang terlibat dalam mensukseskan acara ini” Kata founder Sudut Lombok, Andriawan Abdi.

Tidak hanya sampai disitu sampai hari ini Sudut Lombok masih melakukan upaya terbaik yang bisa dilakukan untuk membantu masyarakat Lombok untuk bangkit, misalnya dengan tetap menyalurkan bantuan logistic sperti sepatu dan upaya membangun kawasan wisata yang berbasis masyarakat di salah satu dusun yang menjadi korban gempa di Sembalun Bumbung.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here