Desa Sade

0
810

Mengintip Budaya Suku Sasak di Desa Sade

 Desa Sade

Desa ini merupakan salah satu destinasi wisata wajib di Lombok Tengah.

Menenun merupakan salah satu budaya yang hingga kini dijaga warga suku Sasak di Desa Sade, Lombok Tengah. Kain indah yang dihasilkan dari benang yang dipintal sendiri dan warna-warnanya pun menggunakan bahan alami. (Sapariah Saturi/Mongabay)

“Welcome to Sasak Village, Sade, Rembitan, Lombok.” Begitu bunyi plang nama berbentuk rumah adat Sasak di tepian jalan di Lombok. Tak jauh dari sana, beberapa pemuda pemandu berdiri menyambut.

“Mau berkunjung ke Sade?” kata Haryadi, pemandu, seraya menunjuk seberang jalan.

“Mari saya antarkan.” Dia tersenyum, ramah.

Kamipun memasuki Sade. Setelah mengisi buku tamu dan memberikan donasi sukarela, kami mulai mengelilingi kampung yang masih mempertahankan keaslian desa sesuai adat Sasak ini.

Dusun ini berada di Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB). Dusun inipun menjadi salah satu tujuan wisata di Lombok.

Dari luar, keunikan perkampungan ini hanya tampak dari bentuk rumah adat dan bahan pembuatan rumah, seluruh beratap ilalang. Ketika di dalam, kampung lebih menarik dan unik sekali. Hampir setiap rumah menjual kerajinan dari kain tenun, sampai pernak pernik seperti gelang, gantungan kunci sampai hiasan kecil buat di rumah.  Etalase produksi kerajinan mereka di  balai atau bangunan berdinding sebagian—digunakan menata kain atau kerajinan. Balai  (bale) ini berada di depan atau samping rumah.

Bahan pembuatan rumahpun dari bahan alami, yakni, tanah liat, sekam padi dan beratap alang-alang.  Yang unik cara mengepel lantai menggunakan kotoran kerbau. “Ini untuk mengendapkan debu dan menghindari binatang seperti nyamuk,” kata Haryadi.

Pengepelan lantai, katanya, dalam seminggu dua kali. “Sudah dari dulu seperti ini. Tradisi. Kotoran sapi sendiri kami dapat dari beberapa lokasi di Lombok ini.”

Untuk atap alang-alang, waktu penggantian berkisar antara lima sampai 15 tahun. Menurut Haryadi, tergantung kerapatan pemasangan. “Makin rapat makin tahan lama.”

Adapun bahan-bahan pembuatan rumah ini, didapat dari kawasan sekitar, baik tanah liat, sekam padi, bambu sampai alang-alang.

Haryadi mengatakan, rumah adat ini ada beberapa bentuk dan fungsi antara lain, bale tani. Ini sebagai tempat tinggal warga sehari-hari. Lalu bale barugak atau balai pertemuan ini untuk  tempat membahas (memecahkan masalah), perkawinan sampai sunatan; lumbung padi dan bale kodong (rumah sementara bagi pasangan muda).

“Lumbung penyimpanan padi Suku Sasak ini simbol Pulau Lombok. Satu lumbung ini dipakai lima sampai enam keluarga.”

Sedang bale tani, kata Haryadi, terdiri dari tiga bagian. Bagian dalam, tempat anak gadis, memasak dan melahirkan. Bagian luar (sebelah kanan) untuk ibu bapak, dan sebelah kiri tempat anak laki-laki plus ruang tamu.

Kala memasuki rumah ini, harus menunduk karena bangunan dibikin pendek. “Itu ada makna. Sebagai tanda menghormati pemilik rumah.” Sedang anak tangga dari rumah bagian luar ke dalam ada tiga. “Ini bermakna, paling atas itu Tuhan, kedua ibu dan ketiga ayah. Ketiga unsur yang harus dihormati. Jadi rata-rata rumah di sini punya tiga anak tangga,” ucap Haryadi.

Bertani dan menenun

Pekerjaan masyarakat Sade ini mayoritas bertani, seperti padi dan sayur mayur. Kalau padi,  tadah hujan dan hanya sekali tanam dalam setahun. “Cuma air dari hujan. Irigasi gak ada sama sekali. Sudah diupayakan tapi sulit.”

Untuk tambahan pendapatan itulah, hampir semua warga menjadi perajin tenunan. Untuk benang tenun, warga membuat sendiri dengan memintal kapas. Tak hanya membuat benang sendiri, pewarnaan mereka juga menggunakan warna-warna alami dengan memanfaatkan tumbuhan atau tanaman sekitar.

“Bikin dari kulit kayu, dedaunan atau tumbuhan lain. Kalau dari daun ambil yang masih muda lalu ambil karang, campurkan biar warna kuat. Misal, warna orange itu kapur sirih dengan kunyit. Dicampur jadi satu.”

Kawin culik

Perkampungan Sade ini berjumlah 700 jiwa, dengan satu rumpun keluarga. Dalam sistem perkawinan Suku Sasak, dikenal dengan kawin lari atau kawin culik.

“Maksudnya, gak perlu dilamar. Yang penting si cowok sama gadis saling suka. Ambil diem-diem, lalu bawa kabur, lari.”

Sang gadis lalu disembunyikan di rumah orang yang tak diketahui oleh orangtuanya. “Soalnya kalau ketahuan bakal diambil lagi.”

Setelah itu, sang lelaki mengutarakan keinginan menikah kepada orangtua sang gadis. Proses terakhir, disebut nyongkolan, berupa iringan pengantin pria dan perempuan kembali ke rumah orangtua mempelai perempuan.

Nanti, pasangan baru itu akan menempati rumah sementara atau bale kodong. “Bale itu rumah, kodong itu kecil. Artinya rumah kecil. Bali kodong ini rumah sementara waktu sebelum bisa membuat rumah lebih besar. Mereka akan menggunakan untuk bulan madu.”

Sumber Artikel : nationalgeographic.co.id

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here