Kisah Bule Baik Hati Mendapatkan Hidayah di Pulau Seribu Masjid

0
589

 

Bagi sebagian orang hidup adalah perjalanan, perjalanan yang harus mereka lalui untuk menemukan sebuah kebahagian dan kenyaman. Mungkin perasaan ini yang membuat Fetter warga negara Belanda memilih keliling dunia untuk mencari kebahagian baginya. Sukses sebagai technopreneur tidak serta merta membuat hidup fetter bahagia, sehingga dia memutuskan keliling dunia, hingga akhirnya dia menemukan hakikat pencarianya saat tiba di sebuah pulau yang terkenal dengan pulau seribu masjid. Di Pulau Lombok Fetter memutuskan untuk membaktikan hidupnya untuk kaum papa, yaikni anak-anak jalanan dan kurang beruntung dengan mendirikan sebuah yayasan.

Niat baik Fetter untuk menolong kaum papa belum cukup membuat Fetter di nilai baik oleh warga skitar, bahkan dia dituduh  melakukan upaya kristenisasi di Pulau Lombok. Ketakutan warga tentu wajar karena Lombok dikenal sebagai Pulau Seribu Masjid dengan Mayoritas penduduknya adalah Islam.  Tuduhan masyarakat tidak membuat Fetter menyerah untuk mempertahankan kebahagiaan yang telah dirasakan.

Untuk meyakinin warga sekitar Fetter sampai harus menjelaskan bahwa dia bukan Atheis (orang yang tidak percaya sama tuhan) ataupun kristen, akan tetapi dia adalah seorang Believers (orang yang tak percaya agama akan tetapi percaya akan adanya Tuhan). Namun penjelasan itu justru membuat warga menuduhnya akan melakukan pemurtadan.

Berikut petikan pengakuan Fetter yang dikutip dari merdeka.com

“Saya sampai harus jelaskan, saya bukan Kristen, saya bukan Ateis, saya tidak punya agama tapi saya percaya Tuhan. Mereka sangat bingung,” ujar Fetter saat dijumpai merdeka.com di Jakarta.

Fetter memaklumi tudingan itu. Warga di sana mayoritas muslim tentu ketakutan itu wajar. Mereka tidak ingin anak-anaknya berpindah keyakinan. Namun pria fasih berbahasa Indonesia ini tak patah arang. Dia melakukan segala upaya demi tercipta cita-citanya membantu anak-anak jalanan di Lombok.

Kondisi ini membuat Fetter semakin intens membuka dialog keagamaan dengan warga skitar dan tokoh agama. Usahan Fetter akhirnya mulai membuahkan hasil warga mulai merima Fetter bahkan tidak ada lagi warga yang menolak atau melakukan perlawanan. Dia pun akhirnya berhasil membeli tanah sempat ditahan penduduk untuk mengembangkan yayasan impian dia dan membantu lebih banyak anak-anak jalanan yang ingin kembali ke sekolah.

Sejak diterima dan lebih banyak bergaul dengan warga muslim di Lombok, Fetter mengaku terkesan atas keramahan mereka. “Setiap hari lihat warga salat, azan terdengar, anak-anak mengaji, itu membuat saya terpanggil menjadi mualaf,” kata Fetter. Kondisi inilah yang membuat mulai tersentuh akan keindahan Islam sehingga memutuskan untuk memeluk agama Islam.

Proses masuk Islam pun berjalan cukup mulus. Awalnya dia mengungkapkan pada ulama setempat hendak berpindah keyakinan dan langsung diumumkan ke seluruh warga.

“Saat itu warga berkumpul dan saya gugup luar biasa. Mereka ingin menyaksikan saya membaca dua kalimat syahadat. Meski agak gemetar proses itu berhasil saya lalui. Saya belajar sedikit sedikit menjadi muslim yang baik. Kini terbiasa dengan bacaan salat, dan sebagainya,” kata pemilik Yayasan Peduli Anak ini.

Fetter mengatakan salah satu bentuk mengaplikasikan ajaran Islam yakni membantu mereka yang kesusahan dan itu sudah dilakukannya sebelum dia menjadi muslim. Menurutnya siapa saja bisa membantu banyak orang tanpa melihat agama, suku, dan ras mereka. “Jangan mudah terprovokasi dengan perbedaan,” ujar Fetter menutup perbincangan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here